Ini Dia Tugas Seorang Pelaksana Proyek Saat Persiapan

Tugas utama seorang pelaksana lapangan sebuah proyek properti adalah mempersiapkan pelaksanaan proyek dengan sebaik-baiknya.

Dari saat proyek dimulai sampai dengan proyek selesai, dari hal-hal kecil sampai dengan hal-hal yang besar.

Pelaksanaan proyek yang akan dibahas ini adalah pelaksanaan proyek yang dikerjakan oleh perseroan terbatas (PT) bukan proyek kecil yang bisa dilakukan oleh orang pribadi.  

Untuk proyek yang dilakukan oleh orang pribadi tahapan pelaksanaannya lebih sederhana namun bisa juga berpedoman kepada tahapan yang akan dibahas ini.

Logikanya, jika anda memahami pelaksanaan sebuah proyek yang lebih besar yang tentu saja lebih kompleks permasalahannya maka untuk melaksanakan proyek yang lebih sederhana, anda dengan amat mudah memahami dan melakukannya.

Perbedaan antara proyek kecil dengan proyek besar dapat juga dilihat dari jenis perijinan yang harus diurus. Untuk proyek dengan skala besar wajib mengurus perijinan dari awal seperti Ijin Lokasi (IL) atau Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Penataan Ruang (PKKPR) sampai dengan IMB induk atau Persetujuan Bangunan Gedung (PBG)

Sedangkan untuk perumahan dengan skala kecil yang bisa dilakukan dengan atas nama orang pribadi tidak memerlukan IL atau PKKPR. Anda bisa langsung memecah sertifikatnya di kantor pertanahan untuk kemudian diajukan IMB/PBG per-unitnya.

Namun langkah ini tergantung kebijakan di kantor pertanahan dan instansi lainnya yang berhubungan dengan perijinan proyek.

Jika pemecahan sertifikat mensyaratkan pengurusan siteplan terlebih dahulu maka Anda musti mengurus siteplan terlebih dahulu. Sesederhana itu.

Secara umum ada beberapa tugas seorang pelaksana pada tahap persiapan proyek, diantaranya survey pasar, survey harga material, konsultasi ke pihak terkait, persiapan legalitas, sosialisasi warga, mengurus perizinan proyek, mempersiapkan proposal kerjasama dengan berbagai pihak dan mengajukan anggaran operasional.

Survey pasar

Pentingnya survey pasar ini berkaitan dengan potensi daya beli konsumen terhadap perumahan, harga material bangunan, developer kompetitor, harga jual perumahan kompetitor, dan data demografi kota setempat.

Data-data ini diperlukan untuk menentukan segmentasi pasar yang dibidik. Selain itu data-data tersebut juga diperlukan untuk merancang strategi marketing.

Jika daya beli konsumen di lokasi tersebut tinggi, ditandai dengan banyaknya kegiatan ekonomi dan sudah ada beberapa proyek perumahan yang mampu diserap pasar, maka terbuka peluang kita membangun perumahan dengan spesifikasi serupa.

Tetapi apabila lokasi tersebut masih sepi, jumlah penduduk dan kegiatan perekonomian tidak begitu banyak maka harus ada kajian lagi supaya dapat memastikan proyek yang akan dibangun bisa sukses dalam penjualan.

Indikator selanjutnya adalah jika di lokasi sudah banyak pengembangan perumahan menengah ke atas, maka kitapun bisa merencanakan proyek untuk pasar menengah ke atas.

Demikian juga jika di lokasi masih untuk perumahan menengah ke bawah, bahkan perumahan subsidi, maka kita harus mengikuti kemampuan dan daya beli masyarakat.

Akan berbahaya jika di lokasi yang masih untuk perumahan menengah ke bawah, lalu ada developer yang nekad membangun perumahan untuk menengah ke atas.

Survey harga material

Melakukan survey harga material amat penting dilakukan supaya biaya pembangunan proyek nantinya bisa diperkirakan.

Dengan adanya data harga material pembuatan RAB proyek bisa lebih teliti karena dibuat berdasarkan harga sebenarnya.

Konsultasi ke dinas terkait

Tugas selanjutnya seorang pelaksana adalah melakukan konsultasi ke instansi terkait perihal kesesuaian lokasi dengan rencana pembangunan proyek.

Konsultasi ini bertujuan agar perencanaan proyek sesuai dengan tata ruang setempat. Artinya jika kita akan membangun perumahan, memang lokasi yang akan dibangun proyek tersebut peruntukannya adalah untuk perumahan. Lebih dikenal dengan istilah zona kuning.

Jika tidak memastikan peruntukan lokasi ini terlebih dahulu maka terdapat kemungkinan pembelian lahan untuk dibangun perumahan namun peruntukannya bukanlah untuk perumahan.

Kondisi ini pernah terjadi, ketika seorang developer mendapatkan penawaran harga tanah yang murah, lalu langsung membayar dalam bentuk uang tanda jadi atau uang muka.

Namun tentu saja transaksi tidak dapat berlanjut secara lokasi tersebut bukanlah untuk zona permukiman tetapi zona pertanian.

Jika tanah tersebut berada di zona pertanian maka lokasi tersebut tidak akan bisa dibangun perumahan, apalagi lokasi tersebut masuk zona Lahan Sawah Dilindungi (LSD), wah ribet lagi urusannya. Sepertinya tidak akan pernah bisa dibangun perumahan.

Karena saat ini pemerintah lagi giat-giatnya melingdungi sawah dari serangan pembangunan perumahan.

Dinas terkait yang biasanya dapat dimintai keterangan adalah dinas tata ruang atau dinas tata kota. Atau secara umum bisa mendatangi kantor Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) setempat.

Karena di PTSP tersebut terdapat berbadai pelayanan terhadap kebutuhan informasi masyarakat.

Konsultasi ke Notaris

Selain itu di tahap awal seorang pelaksana proyek juga diperlukan konsultasi ke notaris atau Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT).

Konsultasi ini diperlukan untuk mendapatkan kepastian tentang legalitas tanah yang akan dibeli. Jadi tahapan ini dilakukan apabila rencana mengakuisi lahan sudah memasuki tahapan yang lebih serius.

Tahapan ini ditandai dengan developer sudah mendapatkan copy surat-surat tanah. Surat-surat tana inilah yang akan dikonsultasikan ke Notaris.

Karena tentu saja Notaris amat memahami berbagai kondisi surat-surat tanah dan persyaratan apa saja yang musti dilengkapi untuk melaksanakan transaksi.

Notaris harus dapat memastikan bahwa tanah yang akan dibeli aman untuk developer, artinya tanah tidak dalam kondisi sengketa.

Jadi kita harus manut kepada Notaris tersebut. Jika Notaris bilang bahwa tanah ini rawan sengketa, jangan memaksakan untuk membeli lahan tersebut.

Tetapi jika Notaris dengan mantap mengatakan bahwa tanah tersebut aman, maka lanjutkan pembelian lahan.

Langkah selanjutnya jika masuk tahap transaksi atau pembelian, maka Notaris mempersiapkan dokumen pembelian tanah.

Termasuk tugas Notaris juga mempersiapkan segala legalitas perikatan seperti perjanjian pengikatan jual beli (PPJB), perjanjian kerjasama lahan jika proyek dilakukan dengan pola kerjasama dengan pemilik lahan.

Demikian juga, jika pelaksanaan proyek dengan menggandeng investor dari luar proyek, maka seorang pelaksana proyek dengan bantuan notaris mempersiapkan juga draft perjanjian dengan mitra Investor.

Sosialisasi ke ‘penguasa wilayah’

Seorang pelaksana lapangan proyek juga harus konsultasi terlebih dahulu ke ‘penguasa wilayah’ setempat. Penguasa wilayah di sini termasuk penguasa secara formal atau non formal.

  • Penguasa formal

Yang termasuk penguasa formal adalah camat, kepala desa/camat, ketua rukun warga (RW) dan rukun tetangga (RT) termasuk para warga.

Pada prakteknya mungkin tidak dalam bentuk konsultasi secara formal, mungkin sekedar ngobrol-ngobrol atau kulo nuwun saja.

Sebagai bentuk penghargaan kepada mereka bahwa kita orang baru akan berusaha di wilayah mereka.

Tetapi nanti jika sudah masuk ke tahapan serius nantinya akan ada surat rekomendasi dari penguasa wilayah tersebut.

Pentingnya surat rekomendasi tersebut adalah untuk memastikan bahwa masyarakat sekitar lokasi proyek tidak keberatan tentang pelaksanaan proyek.

Surat rekomendasi ini sebagai persyaratan untuk mengurus perizinan proyek selanjutnya.

Jadi nantinya akan ada tiga buah surat rekomendasi yaitu rekomendasi dari camat, kepala desa/lurah dan rekomendasi dari warga.

  • Penguasa non formal

Sama dengan sifat konsultasi ke penguasa formal, konsultasi ke penguasa non formal ini lebih ke perkenalan saja.

Karena nantinya dalam pelaksanaan proyek biasanya para penguasa wilayah non formal ini memiliki peran. Terutama peran dalam hal pengamanan.

Tetapi jika mereka tidak diakomodir, peran mereka berubah menjadi ancaman terhadap keamanan proyek. 😀

Memang ada beberapa strategi dalam menghadapi penguasa non formal ini, bisa dengan tegas atau cara persuasif.

Proyek yang menerapkan pengamanan tegas ditandai dengan menggunakan tenaga pengamanan profesional.

Dengan tenaga profesional, maka peran penguasa non formal ini bisa dihilangkan.

Selain dengan menerapkan strategi pengamanan tegas developer bisa juga menerapkan strategi pengamanan persuasif. Strategi ini ditandai dengan penguasa non formal ini dilibatkan dalam pengamanan proyek.

Siapakah penguasa non formal itu? Mereka adalah para organisasi kemasyarakatan (ormas). Di beberapa daerah ormas ini sangat banyak.

Satu sisi keberadaan mereka mungkin menguntungkan pelaku usaha namun di beberapa kasus keberadaan mereka malah mengganggu jalannya proyek. Dua sisi mata uang.

  • Sosialisasi ke warga

Tugas selanjutnya seorang pelaksana sebuah proyek adalah melakukan sosialisasi tentang pelaksanaan proyek kepada warga sekitar supaya tidak ada gangguan pada saat proyek sudah dijalankan.

Ia mempersiapkan segala hal yang berkaitan dengan sosialisasi dengan warga, jika disepakati ada berita acara sosialisasi dalam bentuk persetujuan warga maka direktur operasional mempersiapkan juga draft berita acaranya dan melakukan pembayaran kepada warga jika disepakati ada kompensasi kepada warga sekitar.

Mengurus perizinan proyek

Mengurus perizinan proyek perumahan di instansi terkait, seperti di pemerintah daerah, Dinas Tata Ruang, Badan Pertanahan Nasional (BPN), Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pemadam Kebakaran, Dinas Pertanian, Dinas Pemakaman Umum, Dinas Perhubungan dan instansi lainnya.

Untuk mengurus perijinan ini seorang pelaksana proyek bisa membentuk tim sendiri karena banyak hal yang harus dilakukan.

Sehingga dengan membentuk tim maka pengurusan perijinan dapat berjalan sesuai target, sebisa mungkin lebih cepat.

Mempersiapkan perjanjian kerjasama (PKS)

Tugas selanjutnya pelaksana proyek adalah mempersiapkan PKS dengan perbankan. Persiapan dimulai dengan menyiapkan proposalnya sampai dengan memenuhi persyaratan PKS tersebut. 

Dimana kerjasama dengan perbankan diperlukan untuk keperluan penjualan jika konsumen membeli melalui Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

KPR inden

Lebih penting lagi fungsi PKS ini adalah untuk konsumen yang membeli secara inden. Dan pembiayaanpun juga dengan KPR inden. Artinya akad KPR dilaksanakan sebelum rumah dibangun.

Dengan adanya PKS dan akad KPR inden maka pembangunan unit rumah bisa dibantu dari uang pencairan KPR dari bank secara bertahap.

Misalnya ketika akad KPR cair dua puluh persen dari bank ke developer. Dengan uang pencairan ini developer bisa membangun unit rumah yang diakadkan.

Setelah pembangunan memenuhi syarat sesuai bobot yang diperjanjikan, maka selanjutnya developer bisa mengajukan lagi pencairan untuk bobot tertentu, begitu selanjutnya sampai uang KPR cair seluruhnya dan rumah selesai dibangun.

  • Kredit Yasa Griya (KYG)

Dalam situasi tertentu, kerjasama dengan bank juga diperlukan untuk pengajuan KYG, Kredit Modal Kerja (KMK) atau Kredit Konstruksi dan lain-lain.

Dimana dengan pengajuan KYG atau Kredit Konstruksi kebutuhan modal untuk pelaksanaan proyek bisa dengan bantuan dari perbankan.

KYG bisa diajukan untuk membangun infrastruktur dan pembangunan unit rumah.

Dengan demikian jika seorang developer mendapatkan KYG maka ia dengan amat leluasa membangun proyek karena modal sudah tersedia.

Hanya saja syarat untuk mendapatkan KYG ini cukup sulit bagi developer baru karena bank akan memberikan KYG jika developer sudah berpengalaman mengelola proyek.

Akan lebih cepat lagi jika developer sudah pernah mendapatkan KYG sebelumnya dan KYG tersebut lancar sampai lunas.

Mengajukan anggaran awal

Tugas selanjutnya seorang pelaksana proyek adalah membuat anggaran pelaksanaan proyek. Sekurangnya anggaran biaya untuk tahap persiapan.

Keperluan biaya pada tahap persiapan ini terdiri dari beberapa bagian yaitu untuk proses akusisi, desain, persiapan lahan, infrastruktur dasar, marketing communication dan overhead.

  • Biaya untuk akuisisi lahan

Biaya untuk mengakuisisi lahan termasuk besarnya harga tanah ditambah dengan pajak-pajak dan biaya transaksi.

Besarnya harga tanah sudah ditentukan sesuai dengan negosiasi dengan pemilik lahan. Tinggal lagi cara bayarnya, apabila disetujui pembayaran tunai maka uang yang wajib disedikan adalah sebesar harga tanahnya.

Tetapi apabila disepakati pembayaran harga tanah secara bertahap maka keperluan uang di depan hanya untuk pembayaran uang muka atau down payment (DP).

PPh dan BPHTB

Demikian juga biaya untuk pajak-pajak transaksi, besarnya sudah ditentukan. Pajak transaksi tersebut yang menjadi kewajiban developer adalah Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) sebear 5% dari nilai transaksi setelah dikurangi terlebih dahulu dengan Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NPOPTKP) sebesar Rp60 juta kecuali DKI Jakarta NPOPTKP-nya Rp 80 juta.

Tetapi terdapat kemungkinan pajak penjual atau Pejak Penghasilan (PPh) juga ditanggung oleh developer, sebesar 2,5% dari nilai transaksi.

Ini sering terjadi jika pembayaran tanah tidak tunai. Dimana pembayaran pajak ditanggung developer ini menjadi salah satu bargain negosiasi dengan pemilik agar pembayaran tanah tidak tunai di depan.

Jadi negosiasinya berbunyi; pembayaran tanah bisa secara bertahap, tetapi pajak penjual ditanggung developer.

Fee notaris 

Biaya selanjutnya yang harus dipersiapkan adalah biaya fee untuk notaris, besarnya tergantung notaris meminta honorariumnya.

Memohonkan sertifikat

Biaya selanjutnya yang harus dihitung adalah biaya untuk memohonkan sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB).

Apabila sudah dibuat anggaran untuk mengurus sertifikat tanah proyek menjadi HGB maka penganggaran awal adalah untuk keperluan awal juga.

Tidak perlu membuat anggaran untuk seluruh permohonan sertifikat sampai selesai.

Misalnya untuk biaya mendaftaran berkas. Karena keperluan biaya tersebut bertahap sesuai dengan progres perjalanan berkas di kantor pertanahan.

Biaya untuk pihak lain

Keperluan biaya ini pada umumnya adalah untuk keperluan persiapan berkas di kantor desa atau kelurahan.

Biaya ini diperlukan apabila tanah belum bersertifikat atau masih girik. Karena apabila tanah masih giri terdapat beberapa kelengkapan berkas yang harus dipenuhi.

Diantaranya surat keterangan tidak sengketa, surat keterangan riwayat tanah dan surat keterangan penguasaan fisik secara sporadik serta legalisir letter C jika girik tanah tersebut tidak ada aslinya.

  • Biaya untuk desain

Besarnya biaya untuk membuat desain proyek ini tergantung nilai proyek. Semakin besar nilai proyek maka biaya desain juga lebih tinggi.

Untuk proyek-proyek sederhana seperti perumahan menengah ke bawah, desain juga cukup sederhana dengan biaya tidak terlalu besar. Tergantung mutu desain dari arsitek, dan si arsitek menghargai karyanya bagaimana.

Ada arsitek yang meminta biaya tinggi karena memang hasil kerjanya bagus, tetapi ada juga arsitek meminta biaya yang murah tentu saja berbanding lurus dengan mutu kerjanya.

Itu wajar, sesuai dengan adagium; ada mutu ada harga

Untuk proyek-proyek untuk segmen menengah ke atas, biaya desain lebih besar. Karena arsitek yang mendesain juga arsitek yang sanggup membuat produk yang bagus.

Untuk proyek seperti ini, selain fee arsitek masih ada fee perencana lainnya seperti struktur, perencana mekanikal elektrikal plambing (MEP), MEP kawasan perumahan, perencana taman (landscape). Biayanya ralatif sesuai mutu yang dibutuhkan.

  • Biaya untuk persiapan lahan

Kebutuhan biaya untuk persiapan lahan berbeda-beda untuk tiap proyek. Karena biaya ini tergantung kondisi fisik lokasi.

Ada kondisi lahan yang sudah cukup bagus, artinya tidak memerlukan pekerjaan berat untuk memulainya.

Mungkin hanya butuh pekerjaan perataan lokasi, pembersihan semak dan pohon, pembersihan puing-puing atau pekerjaan lainnya yang tidak membutuhkan alat berat.

Namun ada juga kondisi lahan yang memerlukan pekerjaan berat seperti pengurukan, cut and fill atau pekerjaan lainnya.

Pengurukan diperlukan apabila elevasi tanah proyek rendah dibanding elevasi banjir yang pernah terjadi. Indikasi ini terlihat dalam rekomendasi peil banjir.

Atau secara fisik dapat dilihat bahwa kondisi tanah masih lebih rendah dibanding posisi sekitar.

  • Biaya untuk infrastruktur dasar

Biaya selanjutnya yang diperlukan adalah biaya untuk infrastruktur dasar seperti membuat dasar badang jalan dan saluran.

Dengan dibutnya badan jalan maka kelihatan lokasi sudah berbentuk. Apalagi pengerjaan jalan ini sampai selesai dan rapi maka ini akan membuat proyek kelihatan sangat siap untuk dijual atau pekerjaan selanjutnya.

Memang ada syarat jika pekerjaan jalan sampai finishing perkerasan seperti beton, paving atau aspal. Syaratnya adalah mutu masing-masing pekerjaan tersebut harus bermutu bagus.

Sehingga jalan tidak rusak jika nanti akan ditempuh oleh mobil, terutama mobil angkutan material proyek.

Kondisi ini disiasati dengan penggunaan mobil proyek yang kecil saja semacam kijang pick up atau sejenis. Sehingga beban yang diterima jalan tidak terlalu besar dan jalan menjadi awet.

  • Biaya untuk marketing communication (marcom)

Biaya selanjutnya yang dibutuhkan di tahap awal proyek adalah kebutuhan untuk marcom. Besarnya kebutuhan awal untuk marcom ini tergantung strategi pemasaran yang akan digunakan.

Apakah nantinya pemasaran akan menggunakan media-media yang berbiaya besar seperti pemasangan baliho, iklan video di media digital atau metoda pemasaran lainnya.

Yang paling bagus adalah kombinasi pemasaran digital dan konvensional.

  • Biaya overhead

Biaya selanjutnya yang musti dianggarkan adalah overhead cost. Besarnya juga tergantung organisasi perusahaan atau organisasi proyek. Atau berapa banyak karyawan yang harus digaji di tahap awal.

Semakin banyak karyawan tentu biaya overhead juga semakin besar. Untuk mengantisipasi pengeluaran besar maka perlu ditetapkan skala prioritas kebutuhan karyawan di tahap awal.

Misalnya di awal-awal belum membutuhkan karyawan untuk marketing, dan pekerjaan teknis, belum butuh karyawan untuk logistik dan gudang atau belum perlu karyawan sebagai pengawas dan satpam.

Perekrutan karyawan sesuai kebutuhan proyek saja. Sehingga bisa menghemat pengeluaran gaji sekurangnya.

Strategi pengajuan anggaran

Anggaran seperti dibahas di atas ini dibuat oleh pelaksana untuk kemudian diajukan ke pimpinan perusahaan.

Nantinya pimpinan perusahaan meneliti kebutuhan tersebut untuk disetujui. Jika diperlukan pimpinan perusahaan mungkin saja minta revisi beberapa item, atau langsung disetujui. Ya, tergantung pimpinan perusahaannya.

Itulah tugas seorang pelaksana proyek properti pada saat persiapan proyek. Berat bukan? Amat berat malah.

Karena dialah yang mempersiapkan seluruh pekerjaan proyek, dialah yang menjadi motor penggerak proyek termasuk memperkirakan kebutuhan modal awal proyek.

Seyogyanya tugasnya tidak hanya pada saat persiapan awal proyek saja, nantinya akan berlanjut ke tahap pembangunan, sampai dengan pemasaran. Dialah yang mengkoordinir seluruh divisi proyek supaya bekerja dan bersinergi.

Pelaksana proyek ini boleh dinamakan project manager, site manager, direktur operasional atau penamaan lain. Bebas saja. Tergantung struktur organisasi perusahaan dan proyek.

Langkah Developer Mengakuisisi Lahan Untuk Dibangun Proyek Properti

Developer wajib mengakuisisi lahan

Mengakuisi lahan adalah langkah wajib yang musti dilakukan oleh sebuah perusahaan pengembang properti. Mengakuisisi lahan sama saja pengertiannya dengan membeli lahan. 

Lahan yang akan diakuisi adakalanya berbentuk Hak Guna Bangunan (HGB), Sertifikat Hak Milik (SHM), berupa girik atau mungkin saja tanahnya tidak memiliki surat-surat.

Nah, dalam artikel ini akan dibahas tentang langkah-langkah yang harus dilakukan oleh developer dalam mengakuisi lahan dalam bentuk berbagai jenis tersebut.

Langkah developer mengakuisisi lahan HGB

Mengakuisisi lahan yang sudah bersertifikat HGB oleh perseroan terbatas (PT) lebih mudah dan cepat.

Karena tanah yang sudah bersertifikat HGB dapat langsung saja dilakukan transaksi dengan penandatanganan akta jual beli (AJB) di hadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT).

AJB dapat dilakukan apabila penjual dan pembeli sepakat untuk pembayaran langsung secara tunai.

Apabila para pihak sepakat pembayaran secara bertahap, maka di tahap awal transaksi dapat dilakukan dengan penandatangan akta Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB).

Di dalam PPJB tersebut dicantumkan bahwa AJB dilaksanakan nanti setelah pembayaran dilunasi oleh pembeli kepada penjual.

Selain transaksi lahan yang sudah HGB lebih mudah, transaksi jenis ini juga lebih cepat. Karena prosesnya cukup sekali saja di kantor PPAT, yaitu membuat AJB.

Tahapan akusisi lahan HGB

Dalam mengakuisisi lahan HGB oleh PT developer langkah yang harus dilakukan adalah pengecekan sertifikat, pembayaran pajak-pajak dan validasi, penandataganan Akta Jual Beli (AJB) dan pengajuan permohonan baliknama.

Pengecekan sertifikat

Sebelum penandatanganan AJB dilakukan, sertifikat harus dicek terlebih dahulu ke kantor pertanahan. Pentingnya pengecekan ini adalah untuk mengetahui apakah sertifikat tersebut terdapat catatan atau tidak.

Jika terdapat catatan di buku tanahnya maka transaksi tidak dapat dilanjutkan sebelum catatan yang melekat di buku tanah tersebut dibersihkan.

Ada beberapa kemungkinan catatan yang terdapat di buku tanah sebuah sertifikat, diantaranya:

  • Pencatatan blokir dari pengadilan

Pemblokiran sertifikat dari pengadilan apabila atas sertifikat tersebut terdapat suatu perkara yang sedang berlangsung di pengadilan.

Sehingga sertifikat tersebut tidak dapat dilakukan proses mengalihkan, menjaminkan atau proses apapun.

Sertifikat tersebut dalam status quo sampai dengan ada putusan pengadilan yang sudah memiliki kekuatan hukum tetap atau inkrah (Inkracht Van Gewijsde)  

  • Pencatatan blokir dari kepolisian

Pencatatan blokir juga bisa berasal dari kepolisian. Hal ini bisa terjadi apabila atas sertifikat tersebut terdapat suatu kasus pidana yang sedang dalam proses.

Pemblokiran oleh kepolisian ini akan tetap melekat di buku tanah sampai dengan perkara yang berkaitan selesai.

  • Blokir dari perorangan atau badan hukum

Pencatatan blokir bisa juga dilakukan oleh perorangan atau badan hukum. Syaratnya adalah terdapat hubungan hukum pihak yang mengajukan blokir dengan objek dimaksud.

Hubungan hukum tersebut diantaranya adalah hubungan karena warisan, adanya perjanjian dengan objek tersebut baik secara bawah tangan atau notariil atau hubungan perikatan antara bank dengan nasabahnya baik perikatan tersebut secara di bawah tanah atau dengan akta notaris.

Apabila terdapat catatan atau blokir atau catatan sita di dalam buku tanah sebuah sertifikat maka sertifikat tersebut tidak dapat dilakukan transaksi sampai dengan catatan tersebut dihapus.

Sebagai keterangan tertulis atas catatan di buku tanah tersebut, kantor pertanahan akan mengeluarkan Surat Keterangan Pendaftaran Tanah (SKPT).

Dimana di dalam SKPT tersebut diterangkan apa apa saja catatan atau blokir yang terdapat di dalam buku tanahnya.

  • Mencabut blokir sertifikat

Penghapusan catatan atau blokir di sertifikat diajukan oleh pihak melakukan pencatatan atau blokir tersebut. Jika catatan blokir diajukan oleh pengadilan maka nantinya pengadilan juga yang bisa mengajukan permohonan penghapusan blokir tersebut.

Demikian juga apabila pemblokiran dilakukan oleh kepolisian, orang perorangan atau badan hukum maka mereka jugalah yang bisa mencabut blokir tersebut.

Permohonan pencabutan blokir diajukan secara tertulis dengan mencantumkan alasan pencabutan blokir tersebut disertai bukti-bukti jika diperlukan.

Pembayaran pajak-pajak dan validasi

Selanjutnya apabila pengecekan sertifikat sudah selesai, maka para pihak diwajibkan membayar pajak-pajak.

Pajak penjual  

Pajak yang wajib dibayarkan adalah Pajak Penghasilan (PPh) sebesar 2,5% yang menjadi kewajiban penjual.

Pajak pembeli

Pembeli tertagih Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) yang besarnya 5%. Pengenaan pajak 5% setelah nilai transaksi dikurangi terlebih dahulu dengan Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NPOPTKP) yang besarnya Rp60 juta, kecuali DKI Jakarta NPOPTKP-nya Rp80 juta.

Pajak Pertambahan Nilai

Pajak selanjutnya adalah Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang besarnya 11%. PPN tertagih jika penjual adalah badan hukum.

Namun apabila penjualnya orang perorangan, tidak ada PPN yang timbul.

Setelah pembayaran semua pajak-pajak tersebut, langkah selanjutnya adalah melakukan validasi ke instansi terkait. PPh dan PPN divalidasi ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) setempat dan BPHTB ke dinas pendapatan daerah.

Proses validasi ini merupakan langkah penting karena adakalanya terdapat ketidaksesuaian antara nilai yang tercantum dalam slip setoran pajak dengan hasil analisa nilai objek dari petugas pajak.

Ada kemungkinan setelah melakukan anlisis tentang lokasi berkaitan dengan nilai transaksi dan jumlah pajak yang dibayarkan, pajak yang sudah dibayarkan dinyatakan kurang oleh petugas.

Jika pajak dinyatakan kurang bayar maka wajib pajak harus membayarkan kekurangan tersebut terlebih dahulu.

Penandatanganan AJB

Setelah semua persyaratan transaksi dilengkapi dan PPAT sudah mempersiapkan draft aktanya, kemudian para pihak menandatangani AJB tersebut.

Setelah akta ditandatangani PPAT menyempurnakan akta dengan memberi nomor akta dan menandatangani dan mengeluarkan salinannya untuk diberikan kepada para pihak.

Pembeli dan penjual mendapatkan satu eksemplar salinan akta, selanjutnya satu eksemplar didaftarkan ke kantor pertanahan untuk diajukan baliknama. Dan satu eksemplar disimpan di kantor PPAT sebagai minuta akta.

Pendaftaran permohonan baliknama

Langkah selanjutnya setelah akta ditandatangani adalah mengajukan permohonan baliknama ke kantor pertanahan.

Proses ini harusnya tidak terlalu lama, dalam tujuh hari kerja proses baliknama sudah selesai dan sertifikat dapat diambil kembali dari kantor pertanahan. Dengan demikian proses transaksi dari penjual ke pembeli sudah selesai dengan sempurna.

Syarat-syarat baliknama:

  1. Asli sertifikat
  2. SPPT PBB dan bukti pembayaran sampai dengan tahun berjalan
  3. Salinan skta jual beli asli
  4. Foto copy KTP, KK dan KTP pasangan, NPWP penjual, dalam hal penjual adalah orang perseorangan
  5. Foto copy akta pendirian dan perubahan-perubahannya PT penjual, dalam hal penjual adalah badan hukum
  6. Foto copy akta pendirian dan perubahan-perubahan PT pembeli
  7. Foto copy pengesahan atau persetujuan atas perubahan akta tersebut dari Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) penjual dan pembeli
  8. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) badan hukum penjual dan pembeli
  9. Nomor Induk Berusaha (NIB) badan hukum penjual dan pembeli
  10. Foto copy KTP direktur utama dan komisaris utama penjual dan pembeli
  11. Foto copy pembayaran pajak-pajak (PPh, BPHTB, PPN)
  12. Risalah rapat yang menyatakan persetujuan dari komisaris atas penjualan aset perusahaan tersebut dalam hal penjual adalah badan hukum
  13. Risalah rapat yang menyatakan persetujuan dari komisaris atas pembelian aset berupa tanah dan bangunan tersebut
  14. Surat kuasa jika dikuasakan

Biaya-biaya yang diperlukan:

  1. Pengecekan sertifikat, besarnya Rp50.000.
  2. Biaya akta, paling besar 1% dari nilai transaksi.
  3. Pajak-pajak, sesuai dengan peraturan dan bergantung kepada nilai transaksi; PPh, BPHTB dan PPN.
  4. Baliknama dan Pemasukan Negara Bukan Pajak (PNBP), besarnya biaya baliknama tergantung PPAT dan PNBP tergantung sistem yang mengacu kepada besarnya Zona Nilai Tanah (ZNT).

Langkah developer mengakuisisi lahan SHM

Langkah sebuah perusahaan developer mengakuisi lahan yang sudah Sertifikat Hak Milik (SHM) berbeda dengan langkah mengakuisi lahan HGB.

Apabila dalam mengakuisisi lahan bersertifikat HGB dapat langsung dilaksanakan transaksi dengan penandatanganan AJB dan langsung diajukan baliknama, tetapi apabila lahannya sudah SHM tidak dapat dilakukan AJB.

Karena badan hukum tidak dibenarkan membeli atau memiliki lahan dalam bentuk SHM. Hal ini tercantum di dalam UU No. 5 Tahun 1960 tentang Undang-Undang Pokok Agraria.

Jadi jika SHM dibeli oleh badan hukum dengan AJB, maka terdapat kewajiban untuk mengajukan baliknama atas AJB tersebut dalam waktu paling lama tujuh hari. Sementara baliknama SHM ke PT tidak diperbolehkan undang-undang.

Maka dalam membeli tanah yang sudah SHM, transaksinya dengan cara membuat akta pelepasan hak.

Logika hukumnya adalah pemilik SHM melepaskan haknya atas tanah tersebut kepada negara, selanjutnya negara memberikan hak guna bangunan kepada badan hukum yang mengajukan permohonan hak atas tanah tersebut.

Atas pelepasan haknya tersebut, pemilik SHM mendapatkan ganti rugi yang mana ganti rugi ini diberikan oleh badan hukum yang akan memohonkan hak atas tanah tersebut.

Selanjutnya berdasarkan akta pelepasan hak badan hukum developer memohonkan SHGB ke kantor pertanahan.

Terdapat beberapa langkah yang harus dilalui dalam permohonan HGB, diantaranya pengukuran, permohonan SK hak dan pencetakan sertifikat.

Pengukuran

Langkah pertama yang harus dilakukan dalam memohonkan sertifikat HGB adalah mengajukan permohonan pengukuran.

Dalam tahapan ini petugas dari kantor BPN datang ke lokasi untuk melakukan pengukuran untuk mendapatkan data-data fisik tanah.

Berdasarkan data-data fisik tanah tersebut selanjutnya BPN melakukan pemetaan dan menerbitkan Peta Bidang Tanah (PBT) yang sudah disesuaikan dengan peta yang ada di kantor BPN.

Dengan adanya tahapan pemetaan ini kesalahan-kesalahan seperti salah dalam pemetaan titik lokasi atau overlapping antar bidang tanah dapat dihindarkan.

Permohonan SK hak

Setelah peta bidang tanah terbit, langkah selanjutnya adalah permohonan penetapan surat keputusan pemberian hak guna bangunan.

Langkah dalam permhonan SK ini cukup panjang karena harus melalui tahapan pemeriksaan oleh Panitia A. Dimana yang menjadi anggota Panitia A ini terdiri dari berbagai seksi yang ada di BPN.

Mulai dari seksi pemberian hak, pemetaan dan pengukuran, seksi sengketa dan seksi lainnya yang berhubungan dengan pemberian hak atas tanah.

Termasuk kepala desa atau lurah juga termasuk dalam keanggotaan Panitia A.

Tugas dari Panitia A ini adalah melakukan penelaahan tentang  jenis hak yang akan ditetapkan, data pendukung berkas permohonan, dasar hukum atas penetapan hak, subyek hak, obyek hak dan analisa tentang hak atas tanah yang akan ditetapkan.

Setelah melakukan telaahan dan analisa selanjutnya Panitia A membuat risalah pemberian HGB untuk ditandatangani oleh kepala kantor pertanda pemberian HGB sudah disahkan.

Untuk luasan tanah tertentu SK hak atas tanah ditandatangani oleh kepala kantor wilayah BPN atau Menteri Agraria dan Tata Tuang/Kepala Badan Pertanahan Nasional RI.

Di dalam risalah SK HGB tersebut juga tercantum kewajiban penerima hak untuk membayar Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB).

BPHTB dibayarkan oleh penerima hak ke bank penerima untuk selanjutnya melaporkannya ke dinas terkait.

Pencetakan sertifikat

Setelah SK HGB tersebut ditandatangani oleh kepala kantor pertanahan (untuk luasan tertentu ditandatagani oleh kepala kantor wilayah BPN atau Menteri Agraria dan Tata Ruang/kepala BPN RI) dan BPHTB sudah dibayar dan divalidasi maka langkah selanjutnya adalah mendaftarkan kembali SK tersebut ke BPN untuk diterbitkan sertifikatnya.

Proses ini tidak terlalu lama, harusnya dalam waktu 7 hari kerja sudah selesai. Kemudian setelah selesai proses pencetakan sertifikat selanjutnya sertifikat dapat diambil oleh pemohon di loket pengambilan. Dengan demikian selesailah proses permohonan HGB atas nama PT developer.

Mengakuisisi lahan girik oleh developer

Tahapan mengakuisisi lahan girik oleh developer berbadan hukum terdiri dari beberapa langkah diantaranya adalah melengkapi persyaratan jual beli tanah girik dari kantor desa atau kelurahan, membuat akta pelepasan hak dengan akta notaris selanjutnya mengajukan permohonan HGB di kantor pertanahan.

Melengkapi persyaratan jual beli tanah girik di kantor desa atau kelurahan

Ada beberapa persyaratan yang harus dilengkapi terlebih dahulu jika sebidang tanah girik akan diperjual belikan, yaitu

  1. Surat keterangan tidak sengketa
  2. Surat keterangan riwayat tanah
  3. Surat keterangan penguasaan fisik secara sporadik
  4. Surat keterangan waris jika pemilik girik sudah meninggal

Semua surat keterangan ini dikeluarkan oleh kepala desa atau lurah. Dimana persyaratan ini diperlukan untuk menyatakan bahwa pemohon betul-betul sebagai pemilik yang sah yang menguasai fisik tanah tersebut , riwayat penguasaannya jelas dan tanah tersebut tidak sedang dalam sengketa dengan pihak manapun. Itulah inti dari surat-surat keterangan tersebut.

Semua persyaratan ini dibuat atas nama pemilik tanah dan diperlukan sebagai persyaratan dibuatnya akta pelepasan hak.

Persyaratan ini sama saja apakah tanah tersebut akan dibeli oleh orang perorangan atau badan hukum.

Membuat akta pelepasan hak di hadapan notaris

Setelah semua persyaratan tersebut dilengkapi maka langkah selanjutnya adalah membuat akta pelepasan hak di hadapan notaris.

Sebagai pihak yang melepaskan haknya adalah si pemilik girik dan sebagai penerima hak adalah PT developer.

Atas pembuatan akta pelepasan hak ini pemilik girik dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) sebesar 2,5% dari nilai pelepasan haknya seperti yang tecantum dalam akta pelepasan hak.

Sementara penerima hak, dalam hal ini adalah PT developer tertagih BPHTB yang besarnya 5% setelah dikurangi NPOPTKP Rp60 juta atau Rp80 juta.  Cara perhitungan PPh dan BPHTB sama dengan jual beli dengan alas hak HGB.

Perbedaan terletak pada waktu pembayarannya, jika transaksi dengan alas hak HGB dengan Akta Jual Beli, pembayaran BPHTB dilakukan sebelum penandatanganan AJB atau saat transaksi.

Sedangkan transaksi tanah girik ini, pembayaran BPHTB dilakukan pada saat permohohan sertifikat sudah terbit SK haknya.

Jadi terdapat jeda waktu antara penandatanganan akta pelepasan hak dengan kewajiban membayar BPHTB. Diperkirakan jeda waktunya bisa lebih kurang 4 bulan, tergantung proses SK di BPN.

Mengajukan permohonan hak ke kantor BPN

Berdasarkan akta pelepasan hak yang sudah dibuat di kantor notaris lalu PT developer mengajukan permohonan HGB ke BPN.

Tahapannya adalah mengajukan permohonan pengukuran, permohonan SK hak dan pencetakan sertifikat.

  • Pengukuran
  • Permohonan SK hak
  • Pencetakan sertifikat

Langkah-langkah tersebut di atas, sama saja prosesnya dengan permohonan sertifikat ketika PT membeli tanah dalam bentuk SHM.

Pengumuman data fisik dan yuridis

Hanya saja ada perbedaan ketika Peta Bidang Tanah sudah selesai dan permohonan SK HGB sudah didaftarkan ke BPN terdapat langkah tambahan yaitu pengumunan tentang permohonan hak ini di kantor BPN dan kantor desa atau kelurahan setempat selama dua bulan.

Isi dari pengumuman ini adalah tentang data fisik dan data yuridis tanah yang sedang dimohonkan.

Pengumuman ini bertujuan untuk memastikan bahwa tidak ada pihak yang keberatan terhadap proses penerbitan sertifikat ini.

Jika sesudah jangka waktu pengumuman terlewati dan tidak ada pihak yang mengajukan keberatan maka proses penerbitan sertifikat dapat dilanjutkan.

Tetapi apabila ada pihak yang mengajukan keberatan maka proses permohonan sertifikat tidak dapat dilanjutkan. Dihentikan dulu sementara.

Lalu kantor pertanahan melalui pejabat terkait akan melakukan telaahan terhadap keberatan tersebut.

Apabila keberatan tersebut memiliki dasar yang kuat maka proses permohonan sertifikat dihentikan sampai dengan adanya penyelesaian. Penyelesaiannya tergantung para pihak.

Mungkin saja akan berlanjut ke proses litigasi di pengadilan, bisa juga melalui non litigasi atau kesepakatan di luar pengadilan. Keduanya boleh-boleh saja.

Nantinya BPN akan melihat penyelesaian tersebut apakah bisa dijadikan dasar untuk melanjutkan permohonan sertifikat.

Mengakuisisi lahan yang tidak ada surat-suratnya

Tidak tertutup kemungkinan ada tanah yang tidak ada surat-suratnya, alas haknya hanya berupa SPPT PBB (Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang Pajak Bumi dan Bangunan) saja, sementara SPPT PBB bukanlah bukti kepemilikan.

Terhadap tanah ini tidak usah khawatir karena tanah yang tidak ada surat-suratnya tetap bisa dimohonkan sertifikat dan diperjual belikan, asal persyaratannya dipenuhi.

Peraturan pemerintah tentang tanah yang tidak ada surat-suratnya

Pemerintah mengatur tentang permohonan sertifikat terhadap tanah yang tidak ada surat-suratnya ini dalam PP No. 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah Pasal 24.

(1) Untuk keperluan pendaftaran hak, hak atas tanah yang berasal dari konversi hak-hak lama dibuktikan dengan alat-alat bukti mengenai adanya hak tersebut berupa bukti-bukti tertulis, keterangan saksi dan atau pernyataan yang bersangkutan yang kadar kebenarannya oleh Panitia Ajudikasi dalam pendaftaran tanah secara sistematik atau oleh Kepala Kantor Pertanahan dalam pendaftaran tanah secara sporadik, dianggap cukup untuk mendaftar hak, pemegang hak dan hak-hak pihak lain yang membebani-nya.

(2) Dalam hal tidak atau tidak lagi tersedia secara lengkap alat-alat pembuktian sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pembukuan hak dapat dilakukan berdasarkan kenyataan penguasaan fisik bidang tanah yang bersang-kutan selama 20 (dua puluh) tahun atau lebih secara ber-turut-turut oleh pemohon pendaftaran dan pendahulu-pendahulunya, dengan syarat:

-penguasaan tersebut dilakukan dengan itikad baik dan secara terbuka oleh yang bersangkutan sebagai yang berhak atas tanah, serta diperkuat oleh kesaksian orang yang dapat dipercaya;

-penguasaan tersebut baik sebelum maupun selama pengumuman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 tidak dipermasalahkan oleh masyarakat hukum adat atau desa/kelurahan yang bersangkutan ataupun pihak lainnya.

Saksi dari orang yang dapat dipercaya

Dalam Pasal 24 di atas dapat dilihat bahwa apabila tidak ada bukti kepemilikan maka dapat dibuat surat keterangan penguasaan fisik tanah yang menyatakan bahwa pemohon sudah menguasai bidang tanah tersebut selama paling sedikit 20 tahun berturut-turut dengan i’tikad baik, yang disaksikan oleh orang yang dapat dipercaya.

Orang yang dapat dipercaya ini mungkin saja kepala desa, lurah, kepala adat atau pihak berwenang lainnya.

Selanjutnya berdasarkan surat keterangan penguasaan fisik tersebut, si pemohon mengajukan permohonan hak ke kantor pertanahan.

Langkah selanjutnya sama saja dengan permohonan sertifikat tanah girik, yaitu pengukuran, permohonan SK hak, pembayaran BPHTB dan permohonan pencetakan sertiftikat.

Setelah sertifikat selesai, bisa dilakukan jual beli dengan PT developer dengan proses normal, yaitu dengan Akta Jual Beli di hadapan PPAT.

Biaya-biaya juga normal seperti biaya AJB dan baliknama, pajak PPh, BPHTB dan lain-lain.

Karena pada umumnya sertifikat yang terbit pertama kali untuk tanah yang tidak ada surat-suratnya ini adalah SHGB atau Sertifikat Hak Guna Bangunan.

 

Tips Memulai Bisnis Developer Properti

Bisnis properti sebagai developer bisa dilakukan oleh siapa saja asalkan tahu caranya dan mau melakukannya.

Nah, berikut ada beberapa tips mudah agar Anda bisa menjadi developer properti. Atau bisa memiliki proyek sendiri.

Tips ini bisa dilakukan oleh siapapun, apakah orang yang sudah punya uang ataupun orang yang tidak memiliki uang.

Karena ada beberapa cara yang bisa dilakukan oleh orang yang tidak memiliki modal yang cukup untuk memulai.

Berikut tipsnya:

Rajin mencari tanah yang sedang dijual

Sebuah proyek properti mutlak membutuhkan tanah. Jadi langkah pertama yang harus dilakukan adalah mencari tanahnya.

Mencari tanah bisa dilakukan melalui banyak cara. Bisa dengan cara mencarinya di internet atau portal jual beli properti, broker tradisional, broker profesional, tanah milik orang-orang terdekat, grup-grup diskusi online, grup WA, dan cara lainnya.

Portal jual beli properti

Mencari tanah melalui portal jual beli properti sangat flexibel dan mudah. Karena membuka portal jual beli bisa dari gadget. (more…)

Keuntungan Menggunakan Professional Broker Vs Broker Tradisional

Sebuah cerita tentang broker tradisional

Untuk mengetahui dan merasakan keuntungan menggunakan jasa professional broker atau property agent dalam menjual atau mencari properti, saya menceritakan pengalaman yang saya alami ketika melisting properti yang saya dapat dari broker tradisional.

Suatu waktu saya mendapatkan informasi tanah dijual di daerah Jalan Panjang Kebon Jeruk Jakarta Barat.

Informasi itu saya dapatkan dari makelar tradisional yang sering menawarkan tanah dijual ke saya. Biasanya mereka terdiri dari beberapa orang yang saling bertukar informasi mengenai tanah atau rumah dijual.

Sebenarnya saya tidak terlalu menganggap serius apa yang mereka tawarkan karena pada umumnya mereka memberikan informasi yang masih mentah. Informasi yang mereka berikan harus dicek kebenarannya dengan teliti supaya tidak mengecewakan calon pembeli nantinya. (more…)

Kesalahan yang Sering Dilakukan Orang Sehingga Permohonan KPR-nya Ditolak

Banyak kesalahan-kesalahan yang umum dilakukan oleh orang dalam mengajukan KPR (Kredit Pemilikan Rumah). KPR disini maksudnya kredit pemilikan rumah kepada bank.

Karena sekarang ini ada juga kredit pemilikan rumah kepada pengembang langsung. Kredit skema ini dibuat oleh developer properti syariah.

Developer properti syariah ini dalam pengembangan proyeknya tidak menggunakan bank sama sekali, baik bank syariah apalagi bank konvensional, baik pada tahapan membeli lahan, membangun maupun dalam hal penjualan kepada konsumen.

Tetapi ada juga developer properti syariah yang tetap menggunakan bank dalam pengembangan proyek, yaitu bank syariah. Kalau KPR dengan bank konvensional keuntungan untuk bank itu dalam bentuk bunga, sedangkan KPR dengan bank syariah keuntungan untuk bank itu dalam bentuk margin atau bagi hasil.

Kita kembali ke kesalahan yang umum dilakukan calon debitur sehingga pengajuan KPR-nya ditolak. Kenapa kesalahan-kesalahan itu terjadi? Kesalahan-kesalahan tersebut terjadi karena masyarakat pada umumnya tidak memahami cara kerja bank.

Nah, langkah berikut bisa dilakukan supaya pengajuan KPR Anda disetujui oleh bank. Langkah pertama yang harus Anda lakukan adalah mendatangi beberapa bank pemberi kredit. Jadi bukan hanya ke satu bank saja.

Kenapa harus mendatangi beberapa bank pemberi kredit? Karena harus dipahami bahwa setiap bank memiliki produk dengan persyaratan tersendiri dalam menyalurkan KPR. Oleh karena itu Anda harus mendatangi beberapa bank sebelum memutuskan mengajukan aplikasi kredit kepada suatu bank. (more…)

Surat Keterangan Waris untuk Beberapa Golongan Penduduk

surat keterangan warisSurat Keterangan waris adalah surat yang menerangkan tentang siapa saja ahli waris dari seseorang yang sudah meninggal dunia. Surat Keterangan Waris ini ada yang dibuat secara bawah tangan dan ada juga yang dibuat di hadapan pejabat yang berwenang.

Dalam menentukan siapa saja ahli waris dari seorang Warga Negara Indonesia yang meninggal, negara kita menerapkan peraturan sebagai berikut:

  1. Untuk WNI pribumi, Surat Keterangan Waris dibuat dibawah tangan, ditandatangani oleh semua ahli waris, dengan disaksikan atau turut ditandatangani oleh 2 (dua) orang saksi dan diketahui dan dikuatkan oleh Lurah dan Camat. Sedangkan untuk pembuatan Surat Keterangan Waris yang didahului oleh sengketa para ahli waris maka pembuatan SKW oleh pengadilan agama dalam bentuk Fatwa Waris. Pembuatan Surat Keterangan Waris secara bawah tangan tidak memerlukan pengecekan wasiat terlebih dahulu dan dalam Surat Keterangan Waris tersebut juga tidak mencantumkan besarnya bagian dari masing-masing ahli waris terhadap harta warisan. Sedangkan di dalam fatwa waris dicantumkan bagian masing-masing ahli waris. (more…)

Bank Apa Saja yang Bisa Menyalurkan KPR Dengan DP Nol Rupiah, Atau Nol Persen?

Pada prinsipnya semua bank bisa menyalurkan KPR dengan DP nol rupiah atau 0 persen, karena saat ini tidak ada lagi larangan dari BI bagi bank yang menyalurkan KPR dengan pembiayaan sampai dengan 100%, atau plafond 100%, dengan demikian DP-nya nol rupiah atau nol persen.

Jadi harus dipahami bahwa, saat ini Bank Indonesia membolehkan, atau tidak melarang bank menyalurkan kredit sampai dengan 100% dari nilai jaminan. Tetapi juga tidak mewajibkan bank menyalurkan KPR dengan DP nol rupiah.

Dulu sampai dengan tahun 2016, Bank Indonesia memberlakukan aturan rasio pembiayaan alias Loan To Value (LTV) dan mekanisme KPR Inden, degan uang muka atau DP kredit, untuk rumah pertama sebesar 15%, sedangkan DP pembiayaan syariah atau Financing to Value (FTV) menjadi 10% melalui Peraturan Bank Indonesia (PBI) No 18/16/PBI/2016.

Dengan adanya PBI ini bank dilarang melakukan pembiayaan sampai dengan 100% , yang diperbolehkan hanya maksimal 85, dengan demikian DP minimal adalah 15%, tidak boleh DP nol, waktu itu.

Namun dengan berlakunya Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 20/8/PBI/2018 tentang rasio Loan To Value (LTV) dan rasio Financing To Value (FTV) untuk Pembiayaan Properti, maka aturan tentang pembiayaan diubah, sehingga BI membolehkan pembiayaan sampai dengan 100%, sehingga DP-nya bisa nol rupiah.

Jadi harus dipahami bahwa BI tidak mewajibkan DP 0 rupiah kepada bank pemberi KPR, tetapi juga tidak melarang bank menyalurkan kredit dengan DP nol. Untuk memahami ini, ada sebuah adagium yang berlaku di bidang hukum yaitu apabila tidak ada aturan yang melarangan berarti boleh dilakukan. (more…)

Tips Supaya KPR Disetujui Bank

perbanyak-listing-properti-anda

Banyak kesalahan yang dilakukan masyarakat dalam pengajuan KPR (Kredit Pemilikan Rumah), sehingga aplikasi KPR sering ditolak.

Kesalahan-kesalahan tersebut terjadi karena masyarakat pada umumnya tidak memahami cara kerja bank.

Harus diketahui bahwa masing-masing bank memiliki persyaratan dan SOP (Standard Operating Procedure) tertentu sehingga penilaian terhadap konsumen juga berbeda-beda.

Mungkin saja suatu bank menolak aplikasi KPR anda tapi bank lain menyetujuinya.  Oleh karena itu, cara berikut bisa anda lakukan supaya KPR anda disetujui.

Datangi beberapa bank pemberi kredit

Setiap bank memiliki produk dengan persyaratan tersendiri dalam menyalurkan KPR kepada masyarakat. Anda harus mendatangi beberapa bank sebelum memutuskan mengajukan kepada bank tertentu. Disinilah diperlukan kecermatan bagi anda untuk meneliti produk KPR yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan anda. (more…)